Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 

Home » Unit » Penelitian

Identifikasi Perilaku dan Karakteristik Kepemimpinan yang Sering Ditampilkan oleh Manajer Indonesia dan yang Penting untuk Masa Depan Indonesia

DISKUSI


Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur dari gaya kepemimpinan Indonesia yang bersifat indigenous secara kualitatif untuk melengkapi studi Suryani, dkk. (in press) yang tidak mengikutsertakan penilaian responden tentang perilaku kepemimpinan yang paling sering ditampilkan dan yang penting untuk masa depan. Kuesioner dengan 80 item yang diperoleh dari Suryani, dkk. (in press) diberikan kepada manajer. Analisis faktor dilakukan untuk solusi satu-faktor dan dua-faktor.

 

Secara umum struktur kepemimpinan satu-faktor ini menunjukkan orientasi pada manusia {people oriented) yang menekankan pentingnya relasi dan konteks kolektif/komunal. Hal ini sejalan dengan pendapat Moelijono (2008), Rukmana (1990), dan Simanjuntak, dkk. (2006) yang melihat sikap merawat/mendorong orang lain sebagai karakteristik utama dari kepemimpinan Indonesia

 

Sedangkan struktur kepemimpinan dua-faktor yang yang saling berkorelasi menunjukkan kepemimpinan yang bersifat bapak-isme dan transformasional. Skala yang digunakan pada penelitian ini sangat reliabel. Bobot faktor dari dimensi bapak-isme sejalan dengan temuan Brandt (1997) namun tidak dapat ditemukan dalam literature kepemimpinan di luar Indonesia seperti paternalistic leadership (Aycan, 2006) dan Farh & Cheng (2000), paternalistic benevolence (Pellegreni & Scandura, 2008) maupun Sinha‘s nurturance-task leadership (1980, 2008).

 

Bapak-isme pada awalnya menekankan relasi "bapak-anak" dimana tokoh bapak menunjukkan karakteristik menjaga, merawat, dan melindungi namun pada saat bersamaan juga mengendalikan, menuntut, serta mengharapkan ketaatan dan kesetiaan. Dalam hal ini, tokoh bapak lebih mendekati tokoh bapak dalam budaya Jawa seperti yang digambarkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Seorang bapak adalah seorang yang merupakan teladan bagi bawahannya, serta memberi inspirasi, motivasi dan bimbingan kepada mereka (Moeljono, 2008; Shiraishi, 1996). Karakteristik bapak ini dapat dilihat pada Tabel 2 antara lain pada item 45 (tut wuri handayani), item 46 (ing ngarso sung tulodo) dan item 47 (ing madyo mangun karso). Di samping itu item 44 (rasa) dan item 58 (musyawarah-mufakat) juga sesuai dengan gambaran seorang bapak. Yang menarik di sini adalah bahwa pada dimensi ini tidak ada karakteristik yang menggambarkan sikap otoriter seperti kontrol atau tuntutan akan ketaatan dan kesetiaan.


Bapak-isme juga menunjukkan sikap positif terhadap keragaman budaya (item 61), sensitive terhadap budaya (item 43), sopan (item 30), gaya komunikasi yang akomodatif (item 55), menciptakan komunikasi yang cair antara bawahan dan atasan (item 63). Karakteristik ini belum pernah dilaporkan dalam penelitian tentang paternalistic leadership sebelumnya. Dari berbagai kenyataan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bapak-isme merupakan dimensi kepemimpinan yang khas {indigenous) untuk Indonesia.

 

Di sisi lain bobot faktor dari dimensi tranformasional sejalan dengan dimensi empat kategori yang dikemukakan oleh Avolio dan Bass (2002, lihat juga Bass & Riggio, 2006). Dimensi mereka tentang idealized influence dapat dilihat pada item 19 (integritas) dan 20 (berperan sebagai model) pada Tabel 2. Item 1 (menghargai orang lain), item 9 (mengembangkan orang lain) dan item 14 (mendidik orang lain) sesuai dengan dimensi individualized consideration. Item 2 {breakthrough), item 4 (agen perubahan) dan item 16 (fasilitator) terkait dengan dimensi intellectual stimulation, sedangkan item 3 (membangun rasa memiliki) dan item 18 (mempercayai bawahan) terkait dengan dimensi inspirational motivation.

 

Perbandingan rerata data demografis berdasarkan usia, jender, etnis, maupun pengalaman pelatihan manajemen barat dan pengalaman bekerja di perusahan multinasional (MNC) dengan menggunakan uji t tidak menunjukkan perbedaan signifikan kecuali pada rerata kelompok manajer yang berusia 19-41 tahun dan yang berusia 42-68 tahun dalam hal sering/tidak munculnya perilaku dan karakteristik pemimpin. Tidak adanya perbedaan ini menunjukkan bahwa dalam kenyataan manajer Indonesia masih mempraktikan gaya kepemimpinan yang homogen yaitu bapak-isme dan transformasional. Bapak-isme merupakan dimensi yang khas (indigenous) untuk Indonesia sedangkan dimensi transformasional merupakan dimensi yang juga ditemukan pada penelitian-penelitian di budaya lain (Avolio & Bass, 2002; Bass & Riggio, 2006)

 

Khusus untuk perbedaan signifikan dimana sampel muda lebih banyak melihat gaya kepemimpinan bapak-isme dipraktikkan di Indonesia mengindikasikan adanya proses transisi yang sedang dialami oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia ke arah manajemen yang lebih profesional yang umumnya menggunakan pendekatan manajemen barat. Dalam konteks ini, gaya kepemimpinan bapak-isme lebih banyak dipersepsikan oleh para manajer muda karena mereka lebih mengharapkan gaya kepemimpinan yang partisipatif. Ini sejalan dengan temuan Setiadi (2007) dimana untuk masa depan, para responden mengharapkan gaya kepemimpinan partisipatif "semu" sebagai transisi. Pada gaya partisipatif "semu" ini pemimpin meminta masukan kepada bawahansebelum mengambil keputusan namun sebenarnya keputusan yang diambil tetap merupakan keputusan yang telah ada dalam pemikiran pemimpin.

 

 

Bernadette N Setiadi