Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 
TALKSHOW CATATAN AKHIR TAHUN 2017

 



Menutup tahun 2017 ini, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Unika Atma Jaya (LPPM) bekerjasama dengan Program Paska Sarjana Unika Atma Jaya dan Radio Sindo Tri Jaya FM menggelar Talkshow Catatan Akhir Tahun 2017 pada tanggal 15 Desember 2017. Acara ini mengupas kemajuan bangsa dan negara Indonesia dimata para pekarya dan periset Unika Atma Jayadi dalam bidang ekonomi, kesehatan, politik dan hukum.  Narasumber dalam talkshow ini adalah Dr. Prasetyantoko (ahli ekonomi), Dr. Yuda Turana (ahli Kesehatan) Dr. Asmin Fransiska (Ahli hukum), Salvatore Simarmata,B.A.,M.A  (Ahli Politik). Catatan akhir tahun ini menutup kegiatan acara Atma Jaya SE Marketplace 2017 sekligus menjadi refleksi akhir tahun bagi bangsa kita.

 

Memulai perbincangan dari sektor ekonomi, Dr. Agustinus Prasetyantoko mengatakan bahwa akan terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi di tahun 2018. “Melihat perkembangan ekonomi Indonesia di tahun 2017 yang mencapai angka 5%, kemungkinan pertumbuhan ekonomi di tahun berikutnya akan mencapai rentang angka 5,1% hingga 5,5%,” kata beliau.

 

Rektor Unika Atma Jaya tersebut juga menegaskan bahwa keterkaitan politik dan ekonomi sebenarnya bukan sebuah dinamika yang baru. Keadaan seperti ini harus bisa dimanfaatkan oleh pemerintah dan para pelaku usaha untuk mengembangkan perekonomian Indonesia.

 

“Sebenarnya boleh dibilang bahwa ekonomi kita sudah tidak begitu terpengaruh dengan dunia politik. Meskipun kondisi politik sedikit memanas tapi kondisi ekonomi kita akan tetap berkembang di tahun depan, namun masalah ini bukan hanya pada level domestik, tapi juga level global,” ungkap Dr. Agustinus Prasetyantoko.

 

Beralih ke sektor komunikasi politik, Salvatore Simarmata S.Sos., M.A mengutarakan, tahun 2017 dapat dikatakan sebagai tahun yang suram dalam konteks penggunaan media sosial dalam demokrasi rektoral khususnya terlebih dalam pemilu.

Menurut Pakar Komunikasi Politik tersebut, kejadian ini disebabkan faktor meluasnya partisipasi politik masyarakat khususnya generasi milenial yang memicu munculnya gerakan politik, baik sebagai volunteer maupun sebagai kandidat dari partai politik tertentu. Faktor lain adanya hoax yang justru diciptakan oleh lembaga-lembaga yang dirancang dengan sengaja untuk menghancurkan proses demokrasi itu sendiri dengan menimbulkan kebingungan atau kesesatan di masyarakat. Padahal peranan media sangat penting untuk mencerdaskan dan memotivasi publik.

 

"Tahun 2017 boleh dikatakan sebagai tahun yang suram dalam konteks penggunaan media sosial karena maraknya berita palsu di tahun ini. Media seharusnya berperan penting untuk mencerdaskan dengan memberikan kajian mendalam tentang suatu topik, menawarkan sudut pandang alternatif lain tentang apa yang sedang diperdebatkan di media sosial,” kata Salvatore Simarmata S.Sos., M.A.

 

Bergeser ke problema hukum di Indonesia, Dr. iur. Asmin Fransiska, S.H, LL.M. mengatakan, akhir-akhir ini hukum dipakai sebagai kendaraan politik untuk menjegal salah satu lawan atau orang tertentu, atau bahkan UU ITE digunakan untuk menyerang kelompok masyarakat kecil yang asas hukumnya masih sangat rendah. Problema ini biasanya dimanfaatkan oleh kelompok yang besar, baik itu perusahan, parpol, atau orang-orang yang mempunyai akses hukum yang lebih kuat.

 

Bahkan menurut Dr. Asmin Fransiska, S.H, LL.M., produk kebijakan pemerintah untuk tahun depan sudah disinyalir bahwa DPR gagal untuk memenuhi janjinya untuk mengeluarkan serangkaian UU di bidang hukum. Hingga kini, RUU masih banyak yang stuck. Misalnya, RUU hukum pidana yang sudah hampir lebih dari dua puluh tahun untuk direvisi, namun kenyataannya tidak berhasil dan akan ditunda tahun depan.

 

Dosen Fakultas Hukum itu memprediksi bahwa hukum akan kurang stabil di tahun mendatang. "Saya kira, tahun depan bukan tahun produktif untuk memproduksi hukum yang baik karena pemerintah hanya fokus ke politik saja. Padahal banyak UU yang tidak terealisasikan. Kemungkinan hukum cenderung akan statis atau bahkan menurun ketika hukum tidak menjadi prioritas lagi,” ujar Dr. Asmin Fransiska, S.H, LL.M.

 

Beranjak ke sektor kesehatan, Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S mengutarakan, untuk mencapai daya saing bangsa, kualitas hidup bangsa pasti pondasinya adalah sehat. Saat berbicara sehat, mungkin berpikir kepada siklus hidup (dari ibu hamil - janin - bayi - balita - remaja - dewasa - orangtua).

 

Namun yang jadi persoalan saat ini, ketika banyak orang yang menikah muda. Menurut Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S, hamil di usia yang sangat muda kemungkinan akan melahirkan bayi yang kurang gizi, dan ini jelas berdampak pada generasi bangsa. Persoalan lain dimasa remaja adanya isu-isu narkoba dan bullying. Bahkan diakhir tahun 2017 juga ada virus difteri yang ternyata disebabkan oleh para penyumbangnya yang tidak divaksin.

 

Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S mengatakan, pemerintah saat ini berperan penting juga dalam peningkatan derajat kesehatan dengan adanya pembangunan infrastruktur. "Sektor kesehatan tidak bisa berdiri sendiri. Pembangunan infrastruktur sangat mendukung dan berpengaruh terhadap peningkatan derajat kesehatan. Tetapi mungkin tantangan terbesar sebenarnya di tahun mendatang adalah transformasi UKS menuju generasi unggul,” ungkap Pakar Neurologi itu.

 

Melihat polemik permasalahan bangsa ini, Unika Atma Jaya berharap pemerintah tidak melupakan eksistensi kampus dalam mengatasi permasalahan yang terjadi. Keempat narasumber berpendapat bahwa universitas merupakan tempat orang-orang cerdas yang mampu menyikapi bahkan menjadi agen perubahan baik dalam tingkat lokal ataupun global. (CTF)

 

link berita

 

https://www.atmajaya.ac.id/web/Konten.aspx?gid=highlight&cid=Catatan-Akhir-Tahun-Unika-Atma-Jaya