Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 
INTERAKSI SOSIAL SELAMA MASA PANDEMI: MELATIH KETERAMPILAN ADAPTASI BUDAYA PARA MAHASISWA YANG BERKULIAH DI LUAR NEGARANYA

Refleksi mengikuti Intercultural Day yang diselenggarakan oleh University of Applied Sciences, Regensburg & Intcom Fördervereins für interkulturelle Kommunikation, Germany 20 Februari 2021 - Oleh Muhammad Bahrul Wijaksana

 

 

Saya bersama dengan mahasiswa lainnya dari angkatan 2020 peminatan Psikologi Temu Budaya mengikuti  International Cultural Day yang diselenggarakan University of Applied Sciences, Regensburg dan Intcom Fördervereins für interkulturelle Kommunikation pada 20 Februari 2021. Salah satu pembicara dalam acara ini adalah Dr. Phil. Juliana Murniati, dosen program Doktor Psikologi Unika Atma Jaya. Pada kesempatan ini saya dapat bertemu dan berdiskusi dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai  negara. Ini adalah pengalaman yang sangat menarik terutama ketika mereka berbagi pengalaman untuk beradaptasi dengan dua hal sekaligus, yaitu budaya baru di tempat mereka melakukan studi sekaligus juga mereka harus beradaptasi dalam situasi pandemi Covid-19.

 

Berdasarkan diskusi dengan mahasiswa yang tengah menempuh studi di Jerman, berhadapan dengan situasi pandemi adalah tantangan yang sangat berat. Interaksi sosial, menurut mereka adalah hal yang sangat penting dalam mengembangkan motivasi dan kepercayaan diri ketika proses adaptasi budaya. Namun, karena situasi pandemi kesempatan berinteraksi sosial langsung menjadi sangat terbatas. Para mahasiswa yang umumnya dari kalangan muda sudah tidak sabar untuk bertemu langsung dengan rekan-rekannya.

 

 

Para mahasiswa menyatakan tidak mendapatkan kesulitan yang berarti meski perkuliahan dilakukan secara online. Mereka memang generasi-generasi virtual yang sangat dekat dengan teknologi informasi. Namun, mereka mengakui dalam konteks kemampuan intercultural, pertemuan yang bersifat daring punya risiko memunculkan stereotype pada individu dari budaya tertentu. Menurut mereka, ini rentan terjadi karena komunikasi hanya dilakukan melalui dimensi audio-visual saja.  Mereka hanya melihat seseorang dari intonasi suara, ekspresi visual tapi ekspresi lain yang bersifat non-verbal tidak cukup terefleksi. Kesalahpahaman bahkan hingga persepsi negatif dapat terjadi. Mereka khwatir, jika persepsi awal audio-visual yang tidak lengkap ini terbawa ketika pertemuan fisik telah dimungkinkan.

 

 

Dari International Cultural Day saya belajar bagaimana para mahasiswa ini juga rentan terhadap misinformasi dan disinformasi. Inilah uniknya generasi siber. Mereka memiliki limpahan informasi namun pada sisi lain juga rentan terpapar informasi-informasi yang secara sengaja memang ditujukan untuk mengecoh pengetahuan public. Seorang pelajar berbagi tentang beberapa temannya yang sangat “technology savvy” tapi ironisnya ia aktif dalam mengkampanyekan teori konspirasi tentang Covid-19 dan seorang militan anti-masker. Teori-teori konspirasi yang tak berdasar adalah rujukannya. Mereka tak pernah percaya dengan informasi dari institusi resmi baik pemerintah, organisasi profesi atau universitas. Mereka hanya percaya pada apa yang ingin mereka percaya.

Ini adalah isu yang cukup serius dalam konteks hubungan intra maupun antar kelompok sesama kaum muda. Anak muda terbelah ke dalam kelompok yang percaya sains dan kelompok yang percaya teori konspirasi yang biasanya memiliki tendensi politik tertentu. Di akhir diskusi kami bersepakat pada kesimpulan penting: ilmu pengetahuan mempersatukan kita, sementara politik cenderung memisahkan kita. 

 

 

Berbagi pengalaman dan pengetahuan secara langsung dengan para mahasiswa yang belajar di luar negaranya adalah pengalaman yang membuka mata. Mereka harus berjuang berhadapan dengan budaya baru tempat ia tinggal saat ini dengan akses dan interaksi langsung yang sangat terbatas. Kekhawatiran mereka pada lahirnya stereotype akibat interaksi online juga sangat beralasan dan merupakan sebuah topik yang menarik untuk dikaji dari sudut pandang hubungan antar kelompok. Literasi digital bagi para mahasiswa penting dijadikan sebagai rekomendasi untuk diskusi International Cultural Day di masa yang akan datang. Semoga di masa depan acara ini akan terus berlanjut dan mengangkat isu-isu yang relevan dari sudut pandang psikologi sosial, hubungan antarbudaya maupun dari sudut pandang kritis lainnya (BUW).

Kalender
S S R K J S M
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30  
bottom