Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 
Ini Lebih dari Sekadar Teknologi dan Literasi

Ini Lebih dari Sekadar Teknologi dan Literasi

Oleh: Fega Andriana

 

Jakarta, 28 April 2019 – Sabtu, 27 April 2019, Journocoders Indonesia, komunitas yang fokus membahas data journalism, merayakan ulang tahunnya yang pertama dengan mengadakan acara dengan tema “Mitigating Fake News With Data During The Election”. Acara ini menghadirkan Bapak Septiaji Eko.N dari MAFINDO (Masyrakat Anti Fitnah), Ibu Ratna  dari inisiator dari Cekfata.com dan AJI Indonesia, dan Bapak Yanuar Nugroho yaitu Deputi II Kantor Staf Presiden.

 

Tahun 2019 adalah tahun yang digaung-gaungkan sebagai tahun politik. Benar saja adanya, tahun ini pemilihan umum dilakukan serentak. Mulai dari pemilihan presiden, DPR, DPRD, sampai DPD. Pemilihan serentak ini adalah pemilihan pertama yang dilakukan secara bersamaan, sejak 2004 silam. Melihat bersamaannya momentum memilih wakil rakyat di berbagai jenjang ini memiliki dampak serius terhadap informasi yang beredar di masyarakat.

 

Menurut Septiaji Eko, Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Matindo), terdapat peningkatan hoax sebanyak 70-80 hoax per bulan pada tahun 2018. Memasuki tahun 2019, peningkatan semakin serius, beredar sebanyak lebih dari 100 hoax/bulan, yang berarti ada sekitar 3 hoax yang beredar setiap harinya. Penyebaran informasi ini dilakukan lewat berbagai platform, seperti Facebook, WhatsApp, dan Twitter. Facebook memegang nomor urut pertama sebagai platform yang menjadi wadah tempat tersebarnya hoax, diikuti dengan WhatsApps. Dalam penjabarannya tentang hoax yang beredar pada saat Pemilihan Presiden 2014 dan 2019, Septiaji menarik kesimpulan bahwa berita bohong yang beredar tahun ini lebih massif menggunakan media WhatsApp, serta konten yang tersebar berupa narasi, foto, dan video, serta berita-berita tersebut mulai beredar sebelum pemilu dimulai. Masuknya WhatsApp sebagai media interaksi punya andil besar dalam penyebaran informasi, membuat para peneliti sulit untuk meneliti alur penyebaran hoax, Septiaji juga menyebutkan bahwa infrastruktur penyebaran hoax sudah terbentuk, sehingga penyebaran hoax semakin mudah tersebar.

Melihat pesatnya angka hoax yang beredar, tidak sedikit komunitas yang membuat gerakan counter hoax dengan tujuan memerangi dan memutus rantai hoax, kegiatan ini juga dibantu oleh media, salah duanya seperti Tempo dan Tirto.id. Di penghujung sesinya, Septiaji menjelaskan bahwa ini bukan hanya sekadar toleransi, melainkan masalah sudah sampai pada hilangnya literasi. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus tanpa solusi yang jelas, kemanusiaan itu akan hilang secara tidak sadar. Hal yang ditekankan adalah selama masih ada kebencian, maka hoax akan terus ada di sekitar kita.

 

Penjabaran terkait semua fenomena ini membutuhkan lebih dari sekadar literasi, juga ditambahkan oleh Bapak Yanuar Nugroho, Kepala Deputi Staf Presiden. Ia menjelaskan bahwa tak cukup hanya ‘membalas’ hoax yang beredar hanya dengan fakta dan memberikan literasi yang selambat-lambatnya perlu waktu sekitar 5-10 tahun untuk benar-benar memberikan literasi. Hal utama adalah kita harus benar-benar bertatap muka, dalam artian memperbanyak silaturahmi, mempertemukan dua pihak yang menjadi ‘korban’ atas berita-berita yang beredar, serta yang paling penting mengikutsertakan tokoh masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut, kegiatan ini dikenal sebagai ‘Semangat Ambon’. Orang-orang Ambon memiliki tradisi tersendiri untuk menyelesaikan masalah yang mereka alami, dengan begitu mereka hidup bersama dengan tentram dan damai.

Kita juga diminta untuk siap berbeda pendapat. Berbeda pendapat yang dimaksud adalah berbeda sudut pandang, hal ini dilakukan agar informasi yang beredar tidak hanya itu-itu saja yang mana pada akhirnya dapat membentuk opini. Maka dari itu, perbedaan pendapat juga harus dijadikan kebiasaan di tengah masyarakat.

 

Di saat-saat genting seperti ini, kita sebagai masyarakat biasa sering kali teriak-teriak ke pemerintah untuk mengambil sikap atas banyaknya hoax yang beredar. “Padahal, sebenarnya kalian-kalian inilah sebagai masyarakat sipil juga sepatutnya memberikan pendidikan kepada pemerintah karena pemerintah masih gagap teknologi. Hal ini dilakukan biar pemerintah tidak serampangan dalam membuat kebijakan” ujar Yanuar Nugroho. Perayaan ulang tahun Journocoders Indonesia mengajarkan kita bahwa melawan hoax, tak hanya berhenti di teknologi apalagi literasi. Kita semua harus turun tangan untuk menyapu kebencian yang beredar, demi masa depan yang damai dan tentram. Jangan lupa semangat Ambon!

 

 
   
Kalender
S S R K J S M
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31
bottom