Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 
Yes, I Can! : Salon Kecantikan Bukti Keberpihakan

Jakarta – Pada Rabu (12/2) lalu Pusat Penelitian HIV AIDS (PPH) Unika Atma Jaya didukung oleh Voice Indonesia, meresmikan Sang Ratu Salon di Kampus 1 Semanggi. Anda mungkin bertanya untuk apa ada rumah kecantikan di lingkungan akademik, bukankah tujuan utama universitas adalah menghasilkan sarjana terdidik bukan malah tercantik?

 

Mungkin anda akan makin mengernyit jika tahu kalau yang bekerja di tempat itu adalah transgender perempuan atau transpuan, yang sebelumnya berprofesi sebagai pengamen atau pekerja seks. Mereka tergabung dalam program pemberdayaan dan pembinaan bagi kelompok marginal (anak jalanan, transpuan dan pekerja seks). Melalui program Yes, I Can!, PPH percaya mereka memiliki kesempatan dan kualitas hidup yang lebih baik.

 

Grand Opening Sang Ratu Salon, Rabu (12/2)

 

“Tiga kategori ini biasanya berasal dari kelompok marginal yang tidak pernah terpikirkan oleh negara”, kata Arybumi Kartini, Project Officer Yes, I Can!. Ary sebut tujuan utama dari Yes, I Can! ialah untuk meningkatkan kualitas hidup dari kelompok target sasaran

 

Teman-teman transpuan ini sendiri tergabung dalam komunitas yang didedikasikan untuk transpuan muda dengan rentang usia <35 tahun. SWARA, atau Sanggar Waria Remaja, dibentuk untuk memberikan advokasi untuk transpuan muda yang kerap mengalami kekerasan dan perlakuan tidak adil. Sejak 2017, SWARA bermitra bersama PPH berusaha untuk menjangkau transpuan yang ingin mendapat kesempatan untuk menambah kapasitas diri di program Yes, I Can!.

 

Titin, Koordinator SWARA saat Grand Opening Sang Ratu Salon, Rabu (12/2)

 

Titin, koordinator SWARA, sebut SWARA berusaha menginisiasi dengan mencari transpuan muda yang ingin mengikuti program pelatihan reflektif. Dengan menggali kebutuhan dan minat dari teman-teman transpuan, apa yang menjadi keinginan mereka yang mungkin untuk dikembangan. Akhirnya lahirlah pilihan untuk membuka fasilitas rumah kecantikan. Dari 80 orang peserta berhasil terseleksi 10 orang yang mendapatakan kesempatan mengikuti pelatihan professional dan magang di Puspita Martha Tilaar.

 

“Dengan adanya program ini teman-teman ini dibantu bahwa ini loh kesempatan kalian buktikan pada masyarakat bahwa kalian bukan cuman bisa ngamen atau kerja seks,” Ia ingin membuktikan kalau tiap orang memiliki kesempatan yang sama.

 

Keberpihakan Kampus Katolik

 

Ini merupakan langkah kecil dari agenda besar untuk mengubah paradigma dan stigma yang menjamur di masyarakat. Kelompok marginal kerap kali menjadi objek perundungan masyarakat. Persoalan marginal adalah soal sukarnya mengakses kesempatan tidak atau kurang dilibatkan pandangan dan kepentingannya dalam kontribusi sosial.

 

Evi Sukmaningrum, kepala Pusat Penelitian HIV AID (PPH) saat Grand Opening Sang Ratu Salon, Rabu (12/2)

 

Evi Sukmaningrum, kepala Pusat Penelitian HIV AID (PPH), menjelaskan keberpihakan berarti turut memberikan kontribusi untuk mematahkan stigma miring dan diskriminasi terharap kaum marginal, khususnya transpuan, agar setidaknya mereka memperoleh akses atas pendidikan dan pekerjaan yang layak. Menurutnya sikap ini selaras dengan nilai Peduli dalan KUPP.

 

Evi berharap agar sikap demikian bisa dicontoh oleh perguruan tinggi lain sebagai sikap inklusifitas dunia pendidikan yang tidak memiskinkan satu golongan statusnya, “Unika Atma Jaya harus menjadi model yang baik bagi kampus lain bahwa ini merupakan keberpihakan, bukan hanya dalam tataran knowledge tapi masuk dalam emosi dan prilaku,” ucapnya.

 

Senada dengan Evi, Siska Dewi Noya, Project Manager Voice Indonesia, sepakat agar kampus lain bisa mengadopsi program yang sama. Ia sendiri mengaku takzim dengan pilihan Unika Atma Jaya yang dengan suportif dan terbuka mendukung kelompok marginal.

 

(kiri-kanan) Evi Sukmaningrum, Elisabeth Rukmini (wakil rektor bid. penelitian dan kerjasama), Arybumi Kartini, 

Siska Dewi Noya, Titin dan Yohanes Eko (Ketua LPPM) Grand Opening Sang Ratu Salon, Rabu (12/2)

 

“Ini udah fastforward, udah advance banget tidak lagi melihat hanya being inclusive, tapimenjadi kampus yang juga terbuka terhadap perbedaan, memfasilitasi teman-teman transpuan untuk mendapat kesempatan akses pekerjaan. Ini memperlihatkan betapa Atma Jaya punya perspektif HAM yang sangat baik”

 

Voice sendiri merupakan progam konsorsium dari Belanda. Kegiatan voice di Indonesia dikhususkan untuk memberdayakan kelompok yang termarginalkan. Voice menyediakan bantuan hibah untuk pendekatan yang inovatif ketika bicara soal advokasi dan pemberdayaan. Konsorsium ini memiliki lima fokus isu antara lain perempuan yang mengalami kekerasan, kelompok disabilitas, indigenous people/masyarakat etnis, discrimination on eldery and youth, dan komunitas LGBTI. (HCR)

Kalender
S S R K J S M
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29    
bottom