Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 
Engagement, Kunci Hidup Bermakna

Pertanyaaan “Untuk apa belajar?” bisa mengundang jawaban beragam. Misalnya, belajar untuk memperoleh pengetahuan; atau, untuk menjadi orang pintar; atau, supaya mudah mendapatkan pekerjaan; atau, demi sukses dalam hidup. Yang menarik, jawaban seperti  “belajar demi hidup yang bermakna”, misalnya, hampir sulit ditemukan. Meang tidak ada yang salah dalam jawaban-jawaban itu. Yang pasti, setiap jawaban memberi gambaran tertentu tentang kepribadian manusianya.

 

Ungkapan Latin “Non schole sed vite discimus”—bukan  demi sekolah tetapi demi hidup kami belajar—bisa memberi inspirasi berharga ketika kita berbicara tentang orientasi hidup. Ungkapan itu menegaskan bahwa yang utama bukan sekolahnya tetapi makna hidup yang diperoleh melalui sekolah. Saya teringat ujaran mantan Kapolri Jendral Polisi Hugeng Iman Santoso. Katanya: “Menjadi orang penting itu baik, tetapi lebih penting menjadi orang baik”. Disini Jendral Polisi yang terkenal bersahaja dan jujur itu ingin menegaskan bahwa “having” (harta, jabatan, dsb.) memang penting, tetapi yang lebih penting adalah  “being” (menjadi orang baik).

 

Seberapa tinggi dan besarnya sebuah jabatan dan seberapa banyaknya pengetahuan yang dimiliki tidak  akan memberi dampak istimewa apapun bagi pemilik jabatan dan ilmu, apalagi bagi amsyarakat luas, ketika jabatan dan ilmu hanya menjadi alat untuk mengejar “having” dan dengan itu mengabaikan “being”. Jendral Hugeng mengingatkan kita bahwa memiliki sesuatu memang penting, tetapi lebih penting adalah seberapa having—entah jabatan atau ilmu pengetahuan—berdampak  baik bagi individu maupun bagi masyarakat luas. Melalui keberhasilan bertransformasi dari “having” ke “being”, disitulah hidup bermakna dipatrei.

 

Dengan demikian, “being” bukanlah sekedar sebuah kata benda. “Being” sekaligus bermakna sebagai kata kerja aktif. Ia menuntut komitemen melalui engagement demi kebaikan umum (common good). Ujaran Jendral Hugeng justru menggugat relevansi kehadiran pelbagai gelar/jabatan (dalam arti luas) serta para ilmuwan di dalam masyarakat. Memiliki jabatan dan ilmu pengetahuan tanpa berdampak kongkrit pada kesejahteraan masyarakat tidaklah bermakna secara substansial. Hidup yang bermakna menuntut having yang berdampak.

 

Logika dan tujuan belajar seperti itulah yang ditekankan di dalam “Preambule” AACSB, lembaga akreditasi internasional untuk Schools of Business. Itu bearti, kualitas pendidikan sangat tergantung pada seberapa berhasil lembaga pendidikan membangun sikap engagement dalam diri anak didiknya. Sikap ini sesungguhnya in line dengan Nilai Peduli, yang merupakan salah satu Nilai Inti Atma Jaya. Logika dan sikap yang sama ini seharusnya diterapkan juga di dalam bisnis karena pada titik ini tergantung profitability dan sustainability bisnis dalam jangka panjang. Mengapa?

 

* * *

 

Bisnis merupakan sebuah entitas sosial dimana keberhasilannya sangat tergantung pada kinerja banyak pihak dalam menjalankan bisnis. Singkatnya, bisnis yang baik sangat tergantung pada bagaimana relasi dengan berbagai stakeholders (baik internal maupun ekternal) dikelola sehingga terbangun loyalitas dan saling kepercayaan yang menjadi intangible social capital keberhasilan bisnis dalam jangka panjang.

 

Itu berarti, bisnis yang baik harus berkinerja melampaui self-interest sempit yang terkurung dalam nafsu maximisasi profit sebagai satu-satunya tujuan bisnis. Bisnis yang baik harus bekerja berlandasakan prinsip mutual benefit dimana hak setiap stakehoklder terpenuhi secara wajar. Pada titik itu, stakeholder management approach serta gagasan corporate sosical responsibility menjadi krusial. Catatan ini penting karena bisnis tidak hadir demi dirinya sendiri; bisnis hadir untuk menjawab needs and desires masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan bisnis tergantung sepenuhnya pada bagaimana bisnis menjawab tuntutan stakeholders. Dengan kata lain, CSR merupakan kewajiban moral yang tidak bisa dihindari.

 

Milton Friedman, ekonom pembela sistem ekonomi pasar bebas, mamaknai CSR semata-mata sebagai tanggungjawab management untuk memaximisasi profit pemilik modal. Tentu saja definisi ini terlalu kerdil. Meskipun begitu ia masih menekankan pentingnya mengejar keuntungan tanpa merugikan pihak  lain. Penegasannya ini penting dicatat. Mengapa? Karena relevansi kehadiran bisnis sangat tergantung pada seberapa bisnis berdampak pada kesejahteraan segenap stakeholders. Porfitabilitas dan sustainabilitas bisnis justru ditentukan oleh seberapa bermakna bisnis bagi segenap stakeholders, termasuk masyarakat luas.

 

Meminjam kearifan pak Hugeng, adalah penting memiliki bisnis yang sukses (baca: beruntung), tetapi lebih penting memiliki bisnis yang baik. Maksudnya, bisnis yang baik memang ditandai oleh besarnya keuntungan yang berhasil diraih. Akan tetapi itu tidak cukup. Apabila hidup bermakna menjadi penting, juga di dalam berbisnis, maka bisnis yang baik menuntut komitment dan konsistensi explisit dari pemilik dan pengelolanya untuk memberi dampak positif nyata bagi segenap stakeholder dan masyarakat luas pada umumnya. Realisasi tanggung jawab sosial ini pada gilirannya justru menghasilkan intangible values (khususnya kredibilitas dan nama baik), yang memang penting untuk mendukung keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.

 

Oleh : Andre Ata Ujan – Pengajar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Atma Jaya

Kalender
S S R K J S M
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31
bottom