Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 
Road to 60th Atma Jaya: Inklusifitas Mulai dari Kampus

 

Inklusifitas masih menjadi isu dalam memperoleh pekerjaan di Indonesia. Terutama bagi kelompok marginal yang sering diperlakukan berbeda oleh masyarakat. Kelompok difabel, penyandang autism, transgender, juga pengungsi merupakan sebagian kecil dari kelompok marginal yang acap kali terhalang dalam bekerja karena tersandung stigma masyarakat.

 

Untuk kategori penyandang disabilitas sendiri menurut data Biro Pusat Statistik 2017 mencatat, saat ini baru 18% dari 1,6 juta anak berkebutuhan khusus yang mendapatkan layanan pendidikan inklusi. Dari 18% tersebut terdapat 115 ribu anak bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan 299 ribu lainnya bersekolah di sekolah reguler pelaksana sekolah inklusi yang ditunjuk pemerintah.

 

Dalam gelar wicara Catatan Akhir Tahun 2019 di Unika Atma Jaya, diungkapkan bahwa meski pemerintah telah meneken UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, terbatasnya pendidikan khusus bagi ABK secara langsung berimbas pada kesiapan sumber daya manusia penyandang disabilitas yang siap bekerja dan dipekerjakan oleh dunia professional.

 

Unika Atma Jaya merupakan salah satu perguruan tinggi inklusi. Keterbatasan fisik mahasiswa tidak menghalangi mimpi mereka untuk mencapai cita-cita mereka. Sebagai perguruan tinggi multikultural, Unika Atma Jaya membuka diri bagi semua kelompok ras, agama, dan suku berbeda. Unika Atma Jaya bekerja sama dengan Diffago untuk melaksanakan job fair bagi teman-teman penyandang disailitas.

 

Unika Atma Jaya menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga nasional dan internasional berusaha mengadvokasi dan mendorong masyarakat untuk mau bergaul dengan kelompok marginal. Dalam lingkungan perguruan tinggi sendiri, mahasiswa perlu dengan sadar untuk terlibat sebagai agent of change yang terbuka. Ini merupakan usaha agar kelompok marginal dapat mendapatkan hak yang sama dalam bekerja dan mengakses pendidikan.

 

Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Kerjasama, Elisabeth Rukmini, menyebut bahwa ini merupakan aksi nyata bagian dari misi kemanusiaan Unika Atma Jaya, "Ini merupakan bagian dari social responsibility. Suatu hal yang dapat dapat kita lakukan dengan skala kecil. Mungkin akan berpengaruh walaupun tidak besar tapi setidaknya mempertahankan kualitas hidup yang baik untuk kelompok kecil itu,” tuturnya saat peluncuran program SILVER (Self Improvement Lesson Vocational Training for Refugees) bersama ILO dan UNHCR awal September 2019 lalu.

 

ILO Country Officer untuk Indonesia dan Timor Leste, Tendy Gunawan, menjelaskan bahwa masyarakat perlu disadarkan kalau kelompok marginal berkompeten untuk bekerja,

 

“Ada stigma tertentu yang menempel pada komunitas karena jarang berkomuninasi. Perlu dilakukan bagaimana raising awareness kepada pengusasa, masyarakat dan policy makers supaya memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kelompok marginal ini,” jelasnya dalam kegiatan Empowering Community through Social Enterprise pada Rabu (13/11/2019) di Kampus 1 Semanggi, Unika Atma Jaya.

 

Unika Atma Jaya meyakini bahwa jika terus disisihkan, kelompok marginal akan makin tertinggal dan tersisihkan. Maka perlu diberi kesempatan bagi semua orang tanpa pandang siapa pun itu. Jika berdasarakan kompetensi, kalau mereka mampu pekerjaan apapun seharusnya bisa mereka apply.

 

Penny Handayani, dosen psikologi Unika Atma Jaya dalam risetnya tekait praktik inklusi dalam dunia profesional menyatakan rendahnya penyerapan tenaga kerja bagi penyandang disabilitas karena kesadaran yang rendah terhadap potensi penyandang disabilitas, pandangan penyandang disabilitas menjadi beban bagi perusahaan, kurangnya kesiapan dalam merekrut tenaga kerja penyandang disabilitas dan stigma negatif masyarakat terhadap tenaga kerja penyandang disabilitas karena dianggap tidak mampu menjalankan tugasnya dan dianggap menjadi beban bagi perusahaan.

 

“Salah satu perubahan paradigma yang utama adalah isu disabilitas ini tidak dianggap sebagai charity based atau sekadar melakukan tindakan sosial karena yang lebih dibutuhkan adalah penghapusan stigma terhadap penyandang disabilitas,” tuturnya.

 

Program Yes, I Can! Yang besutan Pusat Penelitian HIV/AIDS (PPH) Unika Atma Jaya berhasil meresmikan rumah kecantikan Salon Sang Ratu. Salon ini seluruhnya dioperasikan oleh trigender perempuan atau transpuan, yang sebelumnya berprofesi sebagai pangamen atau pekerja seks. Yes, I Can! Sendiri merupakan program pemberdayaan dan pembinaan bagi kelompok marginal (anak jalanan, transpuan, dan pekerja seks). Program ini adalah realisasi dari visi PPH dalam menghidupi nilai Peduliyang mayakini bahwa setiap orang memiliki kesempatan dan akses untuk kualitas hidup yang lebih baik.

 

“Unika Atma Jaya harus menjadi model yang baik bagi kampus lain bahwa ini merupakan keberpihakan, bukan hanya dalam tataran knowledge tapi masuk dalam emosi dan prilaku,” kata Evi Sukmaningrum, kepala Pusat Penelitian HIV AID (PPH).

Kalender
S S R K J S M
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31
bottom