Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 
Satu Misi Untuk Mengubah Dunia, Kontribusi Untuk Masa Depan yang Lebih Baik

 

“If the ending is not happy, then it is not the ending yet. Keep going,” USLS 2019, Bangkok, Thailand.

 

University Scholars Leadership Sympsium (USLS) ke-9 telah berhasil diselenggarakan di Bangkok, Thailand. Acara yang berlangsung dari tanggal 2 - 7 Agustus 2018 ini mengundang 1057 peserta dari 87 negara diseluruh dunia. Secara garis besar, USLS merupakan sebuah wadah yang dibentuk oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menginspirasi mahasiswa-mahasiswi seluruh dunia untuk memiliki rasa empati yang besar kepada sesama dan membawa perubahan untuk dunia. Dalam mewujudkan misinya, USLS mengundang pembicara-pembicara dengan latar belakang pekerja sosial dari berbagai macam negara dan membuka diskusi terbuka dari masing-masing agensi PBB.

 

Prof. Kishore Mahbubani membuka sesi pertama dengan membawa topik mengenai kurangnya komunikasi antara negara-negara besar didunia yang membuat ketidakstabilan ekonomi dan politik di dunia. Melalui sesi dari mantan presiden Dewan Keamanan PBB ini, para peserta didorong untuk menggunakan kesempatan dengan sebaik mungkin dengan cara berdiskusi dengan peserta dari berbagai macam negara lain untuk menuntaskan kemiskinan di dunia. Sesi kedua, masih pada hari pertama USLS diselenggarakan, dibawakan oleh motivator internasional Simerjeet Singh. Ia memotivasi para peserta untuk memaksimalkan potensi yang kita miliki didalam hidup. Kita harus mengenali terlebih dahulu, bagaimana diri kita, apa yang kita inginkan, dari situ kita bisa melawan semua kendala yang kita miliki untuk menggapai kemampuan diri kita dalam level maksimal.

 

Hari kedua dari sesi USLS diisi dengan diskusi panel dari berbagai macam tokoh di bidang imigran, sukarelawan dunia, dan akademisi. Sayangnya, diskusi panel yang diadakan kurang menarik karena hanya menyorot sedikit sisi kemanusiaan yang menumbuhkan empati dari peserta. Terlebih pada diskusi panel sesi kedua, diskusi yang terjadi kurang berpusat pada sisi kemanusiaan yang harusnya dibangun. Namun, cenderung menunjukkan universitas-universitas tempat para pembicara berasal. Hal yang lebih menarik pada hari kedua adalah sesi paralel dengan lembaga-lembaga PBB, seperti UN WOMEN, United Nations Population Fund (UNFPA), dan International Organization for Migration (IOM).

 

 

Sesi yang saya ikuti adalah UN WOMEN, dengan harapan saya mendapat lebih banyak pengetahuan untuk mengatasi ketimpangan gender yang terjadi di Indonesia. Namun sayangnya diskusi yang terjadi pada ruangan UN Women hanya sebatas memperkenalkan masalah-masalah ketimpangan gender yang terjadi di dunia tanpa benar-benar memberikan solusi nyata. Terlebih ketika peserta-peserta perempuan dari Afrika bertanya, saya merasakan kurangnya solusi mendalam yang ditawarkan.

 

Sesi seminar yang diselenggarakan keesokan harinya dibawakan oleh Geraldine Cox. Sesi ini sangat inspiratif karena Cox membakar hati nurani para peserta USLS dengan segudang pengalaman menariknya saat menolong anak-anak korban perang di Kamboja. Ia menceritakan keberaniannya untuk keluar dari zona nyaman, yaitu keluarganya, sekolahnya, bahkan karirnya di Australia, dan nekat terjun langsung ke Kamboja untuk menyelamatkan anak-anak korban perang.

 

Tiga sesi selanjutnya dibawakan oleh David Begbie (pendiri Crossroad Foundation diHongkong), Tim Peters (pendiri Helping Hands di Korea) dan Francis Kong (penulis dan motivator internasional dari Filipina). Ketiga sesi selanjutnya kurang lebih sama dengan sesi pertama. Para pembicara memberikan semangat kepada para peserta untuk peka terhadap masalah kemanusiaan disekitar dan membantu sesama. Sayangnya, pada sesi di hari kedua, kurang ada pembahasan mengenai masalah-masalah yang terjadi saat terjun langsung kelapangan menjadi relawan. Contohnya, pada sesi Geraldine Cox, ia kurang dapat membantu memberikan pemahaman untuk mengatasi masalah kurangnya lingkungan suportif atau kurangnya dana dalam membantu sesama. Ada baiknya jika sesi-sesi di USLS lebih dalam membahas penyelesaian masalah.

 

Keesokan harinya, pada hari Minggu, 4 Agustus 2018, para peserta terjun langsung ke lapangan untuk misi kemanusiaan. Sesi ini merupakan sesi yang paling menarik dari seluruh rangakaian sesi lainnya di USLS. Saya sendiri memilih sesi Kebun Binatang bersama anak-anak dari suatu panti asuhan di Bangkok.  Saat kami sampai di Kebun Binatang, anak-anak panti asuhan yang akan berjalan-jalan bersama kami sudah menunggu di gerbang Kebun Binatang dengan penuh sukacita. Mereka melambaikan tangan dan menyapa para peserta. Kami pun diminta untuk menjaga satu anak selama perjalanan kami di dalam kebun binatang. Awalnya memang sulit bagi kami untuk berkomunikasi dengan anak-anak tersebut, namun lama kelamaan kami terbiasa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh.

 

Saya bersama anak perempuan yang bernama Tnang. Awalnya, saya tertarik kepada Tnang karena ia sangat pendiam. Saat anak-anak lain asik bercengkrama dengan pendampingnya, Tnang hanya duduk diam, asik dengan ponsel yang ia bawa. Oleh sebab itu, saya mencoba berinteraksi dengannya. Walaupun butuh waktu agak lama bagi Tnang untuk berkomunikasi dengan saya, pada akhirnya An mulai terlihat ceria. Bahkan, di waktu-waktu akhir kunjungan kami, Tnang menarik saya ke berbagai tempat hewan yang belum kami kunjungi. Pada akhirnya, kami berfoto bersama sebelum masuk ke bus masing-masing. Walaupun sebentar, tapi saya merasa sangat senang dengan Tnang dan sesi lapangan pada hari itu.

 

Selain berbagai pengalaman menarik dalam seminar dan kegiatan langsung di lapangan, benefit yang saya dapatkan dari USLS adalah networking. Selama seminar, kami berkenalan dengan berbagai mahasiswa dari seluruh dunia. Saya mengenal mahasiswa dari Korea Selatan, Hongkong, Australia, Singapura, dan bahkan Amerika Serikat. Tidak hanya berkenalan, kami juga saling bertukar cerita mengenai fenomena-fenomena yang terjadi di negara kami. Bagaimana sistem pendidikan di negara kami,

Kalender
S S R K J S M
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31
bottom