Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 
Dosen Unika Atma Jaya raih SINTA Award 2018

Raymond R. Tjandrawinata (kanan) bersama Menristekdikti Prof. H. Mohamad Nasir (kiri)

 

Raymond R. Tjandrawinata, Ph.D.,M.S., MBA Kepala program studi Magister Teknobiologi meraih SINTA Award 2018.  Pemberian penghargaan oleh Menristekdikti Mohamad Nasir dilakukan pada rabu malam (4/7) di Kemristekdikti, Jakarta. Raymond R.Tjandrawinata meraih penghargaan untuk kategori penulis artikel ilmiah dengan Sinta Score tertinggi kategori Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

 

Sinta merupakan singkatan dari Science and Technology Index yang dilakukan oleh Kemristek Dikti guna mendata jumlah publikasi dan sitasi publikasi ilmiah nasional dan internasional dosen dan peneliti dari berbagai institusi. Melalui Sinta dapat dipetakan kepakaran dan dilakukan pemeringkatan kinerja penulis, institusi dan jurnal terbaik Indonesia.

 

Raymond R. Tjandrawinata menjadi dosen di Unika Atma Jaya sejak tahun 2012. Tak hanya mengajar, beliau juga seorang ilmuwan di bidang farmasi dan juga pendiri sekaligus Direktur Pengembangan dan Direktur Eksekutif Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) yang merupakan lembaga riset multidisipliner untuk kemajuan riset obat bahan alami di Indonesia.

 

Raymond R. Tjandrawinata saat menerima penghargaan

 

Prestasi yang ditorehkan beliau luar biasa beberapa diantaranya, mendapatkan Habibie Award XVIII tahun 2016 untuk bidang Kedokteran dan Teknobiologi. Selain itu, beliau juga berhasil masuk dalam “Top 50 Authors” dengan berada di peringkat 13 dalam Rank in National di Science and Technology Index (SINTA) dan pernah mendapat The Swa Indonesia Future Business Leader Award, juga diangkat sebagai “Fellow” oleh The Royal Society of Chemistry dan The Society of Biology. Pada tahun 2018, Raymond menerima penghargaan dari Wakil Presiden Republik Indonesia, M. Jusuf Kalla atas Anugrah Kekayaan Intelektual 2018, WIPO Medal for Inventors. Raymond menerima penghargaan ini, atas prestasinya memiliki 10 paten di Indonesia dan 56 paten lainnya di berbagai negara, seperti: Amerika, Eropa, Australia, Jepang, Korea, dan beberapa negara lain. Paten-paten tersebut ada yang atas nama Raymond R. Tjandrawinata/ atas nama Tim Peneliti yang dipimpinnya. Paten-paten tersebut diatas, diserahkan kepada PT Dexa Medica untuk memproduksinya menjadi obat herbal dari tanaman asli Indonesia. Baginya, Biokimia adalah topik yang paling penting dalam ilmu kehidupan karena mengajarkan mekanisme dasar sistem kehidupan.

 

Mengenyam pendidikan di luar negeri nggak membuat Raymond melupakan tanah air.  Beliau tergerak untuk mengembangkan obat-obat berbasis alam di Indonesia. Dari hasil penelitian bersama timnya, terdapat tiga obat hasil riset DLBS, antara lain Inlacin, Disolf, dan Phalecarps. Inlacin adalah obat penurun resistensi insulin yang dapat membantu penurunan gula darah. Selain itu, Disolf adalah obat dari protein Lumbricus Rubellus (cacing tanah) yang dapat membantu menghilangkan sumbatan di pembuluh darah. Sedangkan, Phalecarps adalah terapi pendamping obat onkologi bagi pasien kanker. Hingga saat ini, Inlacin sudah mendapatkan lima paten, Disolf empat paten, dan Phalecarps delapan paten. Semua produk tersebut dipublikasikan dan dipatenkan baik di dalam dan luar negeri, termasuk Amerika, Eropa, dan beberapa negara Asia.

 

Foto bersama para penerima penghargaan SINTA Award 2018

Kalender
S S R K J S M
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30  
bottom