EN | ID
 
Nory, Alumna Fakultas Hukum Unika Atma Jaya Wakili Indonesia dan Asia dalam WYD 2013

 

Terpilih dari ratusan juta orang Indonesia, di antara jutaan orang muda Katolik Indonesia, tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Apalagi terpilih untuk menerima komuni langsung dari “Dom” Orani Joao Tempesta, Uskup Agung Rio de Janeiro di panggung utama pada Misa Pembukaan WYD 2013 mewakili Indonesia dan Asia. Itulah kebanggaan terbesar sekaligus sebagai pengalaman iman yang luar biasa bagi Nory yang baru diwisuda pada April 2012 ketika mengikuti World Youth Day, temu iman dan temu akbar orang muda Katolik sedunia di Rio de Janeiro pada 23-28 Juli 2013 lalu. Mantan aktivis PDKK St. Hieronimus, Pastoran Atma Jaya dan berasal dari Keuskupan Pangkalpinang ini selalu terharu jika mengingat salah satu peristiwa yang sangat bersejarah dalam hidupnya.

 

Tak hanya itu, mantan Koordinator Tim Informasi dan Promosi Mahasiswa Baru ini dengan bangga mengenakan kebaya karena berkesempatan duduk di area khusus dekat panggung utama ketika Perayaan Ekaristi Penutupan WYD 2013 yang dipimpin langsung oleh Paus Fransiskus. Namun, sebenarnya ada perjuangan yang tak mudah bagi Nory hingga akhirnya dapat mengikuti WYD. Setelah mengubur keinginan untuk mengikuti beberapa WYD sebelumnya, Nory akhirnya mampu “menjawab undangan Tuhan” dalam WYD 2013. Berikut kesan-kesan Nory yang juga menjadi salah satu anggota Grup Atma Jaya terhadap WYD 2013.

 

Kenapa tertarik mengikuti WYD?

“Keinginan mengikuti WYD sudah muncul dari WYD Sydney (2008) dan Madrid (2011). Namun karena masalah finansial, Tuhan belum mengizinkan. Ketika saya aktif di PDKK di paroki saya (Paroki St. Yosef, Katedral Keuskupan Pangkalpinang), datanglah 3 orang "kiriman Tuhan" dari Jakarta (Ko Chello, Kak Ririn, Ko Alip) dan mengenalkan tentang WYD kepada saya. Mereka bercerita bahwa seluruh anak muda dari seluruh penjuru dunia datang ke satu acara ini, bukan untuk rekreasi tapi untuk memuji dan menyembah Tuhan, (yang juga menjadi inti kegiatan PDKK), bertemu dengan Paus, tidak akan hidup mewah tapi beramai-ramai bersama teman senegara, dan akan sangat merasakan sukacita. Ada rasa yang bergetar di hati karena merasa ingin sekali ikut, ingin mendekatkan diri dengan Tuhan, merasakan menjadi Katolik bersama orang seluruh dunia, mendapatkan pengalaman iman luar biasa. Setelah lima tahun berlalu, akhirnya undangan Tuhan untuk mengikuti WYD hadir untuk saya di 2013 ini.”

 

Bagaimana persiapan-persiapan menuju WYD Rio?

“Persiapan menuju WYD Rio sangat tidak mudah, tapi Tuhan katakan itu mungkin. Saya bisa ikut WYD Rio benar-benar karena Tuhan bekerja melalui banyak peristiwa dan tangan-tangan kasih para donatur. Dia mempertemukan saya dengan seorang senior, yakni Gerard, lewat sebuah event kampus. Setelah acara itu selesai, dia mengajak saya dan beberapa teman untuk WYD. Dan, yang luar biasa, saya langsung menjawab "YA". Akhirnya terkumpullah 17 orang yang ingin mengikuti WYD, dan rutin berkumpul setiap hari Selasa.  Di pertemuan pertama, Gerard menceritakan apa itu WYD karena ia sudah mengikuti WYD Sydney (2008) dan Madrid (2011). Kami pun melakukan pencarian dana bersama dengan berbagai cara. Secara pribadi, saya mempersiapkan hati dengan berdoa, memohon untuk kesiapan hati, agar dapat sungguh-sungguh menerima Tuhan yang akan datang dengan berbagai cara di WYD ini, juga mempersiapkan mental dan fisik agar siap menghadapi kejutan-kejutan besar yang tidak pernah saya ketahui, serta mempersiapkan diri agar siap menerima cinta Tuhan dan tanggung jawab besar atas undangan ini.”

 

 

Bagaimana kesan menjadi perwakilan Indonesia dan Asia yang untuk terima komuni dari Dom Orani Joao Tempesta di Misa Pembukaan WYD?

Terharu banget nih mendengar pertanyaannya... Pada hari kedua di  Rio de Janiero, bersama Gerard, Kak Willem dan Hagi, saya menuju Bagian International Office di Church of Our Lady of Copacabana untuk mencoba mengurus akreditasi saya dan dua orang teman yakni Claudia dan Hagi, yang juga karena bantuan Gerard mendapatkan special access untuk berada di dekat panggung utama. Selama perjalanan, Gerard masih mewanti-wanti saya untuk tidak terlalu berharap karena kejutan selalu ada dan kita tidak pernah tahu apa yang terjadi. Sesampai di ruangan, Gerard kemudian masuk dan berbicara dengan petugas disana. Dan.. jengg... jengg... Gerard kemudian keluar dengan membawa name tag terindah yang pernah saya lihat dan tidak akan pernah saya lupakan, karena berkat name tag itu, saya bisa berada di barisan terdepan di bawah altar saat Misa Pembukaan, juga saat Misa Penutupan yang dipimpin oleh Paus. Seketika itu juga tangis saya tumpah.. Masih ada kejutan berikutnya, yakni ketika Gerard memberitahu bahwa saya akan menerima langsung komuni dari Dom Orani Joao Tempesta, Uskup Agung Rio de Janeiro yang akan memimpin Misa Pembukaan. Kembali, air mata yang mulai surut itu tumpah lagi. Tuhan luar biasa banget! Siapa sih saya? Setelah melewati perjalanan panjang dan sedikit rintangan, akhirnya saya berada di Gate B/4, bertemu dengan volunteer Bagian Liturgi yang membantu saya dan memberitahukan bahwa nama saya sudah tercatat bersama 15 orang lainnya dari berbagai negara. Wow! Kami berenam belas seolah mewakili seluruh peserta WYD, mewakili Indonesia.. Sungguh perasaan yang luar biasa. Bukan lagi perkara, saya yang terpilih, tapi Indonesia, negara tercinta, dan mewakili ratusan negara lainnya dari Asia untuk menerima komuni. Dengan bangga saya kenakan jaket pilgrim bertuliskan “INDONESIA” di belakangnya sejak di behind stage saat melihat para uskup bersiap, hingga akhirnya duduk di samping altar, di belakang para uskup untuk mengikuti misa. Dinginnya angin pantai dan hujan sempat membuat saya sangat menggigil, tetapi perasaan bangga sedikit demi sedikit menentramkan hati. Sebelum menerima komuni, saya berdoa agar Tubuh Kristus dapat menghangatkan saya.. Dan, Tuhan memang bekerja menghangatkan saya saat itu..

 

Bagaimana kesan-kesan selama WYD Rio?

Terlalu banyak kesan tentang WYD.. Kesan paling berharga tentunya menerima komuni di panggung utama WYD saat Misa Pembukaan dan mendapat special access saat Misa Penutupan.. Selain itu, tentunya bangga bisa menjadi duta Indonesia  bersama Hagi dan Claudia di barisan depan, di bawah altar dan melihat Paus yang sangat bersahaja. Ini juga menjadi pengalaman iman yang luar biasa bagi saya. Ada lagi pengalaman iman yang begitu indah merasakan bagaimana Tuhan bekerja ketika berada di rumah houseparents selama di Sao Paolo dan Rio de Janiero. Bahasa kasih Tuhan sungguh berbicara lewat mereka dan mengatasi kesulitan komunikasi kami. Lewat pelukan dan ciuman yang tak pernah terganti dan terlupakan. Sulit diungkapkan dengan kata-kata, tetapi saya belajar bahwa Gereja Katolik itu sungguh luar biasa, sangat penuh cinta. Di dalam Gereja, kita bisa belajar arti persaudaraan, keluarga, dan cinta. Tidak hanya itu, menyaksikan langsung bendera Indonesia berkibar-kibar di tengah ratusan negara lainnya untuk satu Tuhan membuat saya terharu, karena sungguh bangga menjadi Katolik dan orang Indonesia.”

 

Apa ada kesulitan selama WYD Rio?

“Kesulitan selama WYD Rio, hampir tidak ada, semuanya kalau dipandang dengan mata biasa sangat sulit dan berat. Tapi ketika fokus dan berserah sama Tuhan, Tuhan ringankan. Sulit tapi mungkin. Saya pernah merasa "lelah" dalam arti ketika saya bersama Gerard sebagaiGroup Leader menginginkan Grup Indonesia 16 melakukan beberapa hal, tapi ternyata belum dilakukan dengan baik, saya merasa sedikit kecewa, sedikit kesal. Namun setelah melakukan pengakuan dosa, dan berpikir, saya menjadi lega, tidak ada kemarahan, berpikir bahwa fokus saya adalah Tuhan, semuanya pun begitu. Saya kemudian menjalankan hari-hari dengan ringan dan bahagia.”

 

Apa rencana setelah kembali dari WYD Rio?

Setelah kembali dari WYD Rio, saya ingin membagikan cinta yang sudah saya dapat dari Tuhan, keluarga di Brazil, dan keluarga WYD Indonesia kepada semua orang, dan lebih banyak orang. Intinya, berbagi cerita kepada siapa saja yang bisa saya ceritakan tentang WYD, mengajak semakin banyak orang untuk menghadiri WYD 2016 di Krakow,  termasuk lewat buku yang ingin tim Grup Atma Jaya wujudkan.

 

Selain Nory, salah satu anggota Grup Atma Jaya lainnya, yakni Willem L. Turpijn juga mendapatkan kesempatan menjadi satu-satunya orang Indonesia yang mendapatkan akreditasi pers. Berbekal akreditasi pers itu, alumnus Fakultas Hukum yang sekarang menjadi karyawan Unika Atma Jaya ini dapat mengakses Media Centre berikut seluruh informasinya, bertemu dengan berbagai jurnalis profesional dari berbagai penjuru dunia, dan yang terpenting adalah dapat meliput seluruh kegiatan WYD kemudian membagikan beritanya kepada beberapa media cetak maupun online di Indonesia.

 

Masih ada pula peziarah muda Indonesia yang menorehkan tinta emas dalam WYD 2013, yaitu Archangeli Epsilandri Setyarini, alumna Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta yang karyanya, yakni official theme song WYD 2013 yang diaransemen dalam bahasa, ritme dan musik khas Indonesia diperdengarkan sebelum dan sesudah Misa Penutupan WYD 2013. Aktivis Orang Muda Katolik Keuskupan Agung Semarang dan warga Paroki St. Paulus, Nganjuk, Keuskupan Surabaya ini adalah orang Indonesia pertama yang mampu mengaransemenofficial theme song WYD dalam bahasa, ritme dan musik khas Indonesia sejak WYD dirintis pada 1985 oleh Beato Yohanes Paulus II “Yang Agung”. 

 

Laporan: Willem Turpijn

S S R K J S M
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31
bottom
Copyright © 2016 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya - All right reserved