EN | ID
 
Peran Mahasiswa Dalam Mewujudkan Demokrasi Sehat

Jakarta, 15 April 2017 - Memasuki masa pemilukada DKI Jakarta putaran II, isu-isu negatif kembali muncul untuk menjatuhkan antar pasangan calon gubernur. Banyak orang menyalahgunakan demokrasi yang ada dengan menyebar informasi yang bersifat provokasi dan mengakibatkan terjadinya perselisihan dalam masyarakat.

 

Sebagai sarana edukasi agar mahasiswa tidak terpengaruh dan mengkritisi isu-isu yang beredar, Forum Diskusi Imiah Mahasiswa (FODIM) Unika Atma Jaya menyelenggarakan acara Fodim External Discussion (FED) dengan tema "Road to Election: Bersama Mewujudkan Demokrasi Sehat" di Aula D Unika Atma Jaya, Rabu (12/4).

 

Suasana diskusi, antunias mahasiswa dalam mewujudkan demokrasi sehat menjelang pilkada DKI Jakarta putaran II.

 

Narasumber yang dihadirkan dalam diskusi kali ini, yaitu Mimah Susanti (Ketua Umum Bawaslu Provinsi DKI Jakarta), Daniel Yusmic (Dosen Fakultas Hukum Unika Atma Jaya), dan Jeirry Sumampouw (Koordinator Komite Pemilih Indonesia) serta dimoderatori oleh Willem Turpijn (Alumni Fakultas Hukum Unika Atma Jaya).

 

Chris juliana, selaku ketua pelaksana dalam sambutannya mengatakan bahwa demokrasi saat ini sedang memanas karena dipengaruhi oleh informasi provokatif. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa harus peka dengan isu-isu yang terjadi dan ikut serta berperan aktif dalam demokrasi ini. "Sangat disayangkan apabila kita, mahasiswa tidak mengambil bagian dalam demokrasi ini. Mengapa peran mahasiswa penting? agar mahasiswa dapat mewujudkan demokrasi sehat di negara kita," ucap Juliana.

 

Dalam pilkada kali ini, isu SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan) menjadi topik yang sering digunakan sebagai bahan provokatif. Hal ini yang membuat demokrasi menjadi tidak sehat artinya demokrasi dicemari oleh beberapa oknum untuk memecah belah keutuhan bangsa dengan megatasnamakan agama.

 

Jeirry menuturkan bahwa perbedaan yang signifikan antara pilkada 2012 dan 2017 adalah isu SARA yang lebih kuat. "Pilkada 2017 diwarnai spanduk-spanduk provokatif yang sangat gencar terpampang di jalan, penggunaan isu SARA secara terbuka, banyak kampanye dibubarkan dan dihalangi oleh kelompok tertentu," ujar beliau.

 

Senada dengan Jeirry, Yusmic mengatakan bahwa dibalik isu SARA yang dihembuskan ada partispasi politik yang medukungnya. "Poltik dibungkus dengan agama, politik dan agama dicampur aduk. Dimana agama sebagai tameng untuk meloloskan kepentingan politiknya," kata Yusmic.

 

Dalam menanggapi kejadian-kejadian seperti ini, Minah selaku ketua Bawaslu mengatakan bahwa agar terciptanya demokrasi sehat merupakan tanggung jawab bersama. "Kami, Bawaslu memang memiliki kewajiban untuk menjaga pemilu damai, aman dan kondusif. Namun, kami perlu dukungan dari masyakat untuk membantu pekerjaan kami, seperti tidak menyebar informasi hoax dan provokatif dan ikut ambil bagian dalam relawan di Tempat Pemungutan Suara (TPS)," ujarnya.

 

Dari kiri ke kanan: Daniel Yusmic, Mimah Susanti, Jeirry Sumampouw dan Willem.

 

Untuk mewujudkan demokrasi sehat yaitu perlu menjunjung tinggi asas luber jurdil. Rakyat harus difasilitas agar mudah berperan dalam demokrasi ini. Rakyat harus diberi ruang yang sama (equality before the law) agar bisa menggunakan haknya. Selain itu masyarakat tidak terpengaruh isu yang ada, bahkan tidak menyebar informasi provokatif dan apabila melihat pelanggaran dalam TPS, dipersilakan secepat mungkin lapor ke petugas setempat.

 

"Peran mahasiswa sangat penting dalam demokrasi yang sehat, mahasiswa dapat bergabung atau berpartisipasi aktif dalam pilkada 2017, seperti menggunakan hak pilihnya secara bijaksana dan tidak golput, serta apabila terjadi melihat pelanggaran dalam proses pilkada, mahasiswa berhak melapor kepada pengawas pilkada setempat," ujar Mimah. (CTF)

S S R K J S M
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30  
bottom
Copyright © 2016 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya - All right reserved