EN | ID
 
Mengenang Tragedi Semanggi I, Masih Ingat Wawan

 

Jakarta, 13 November 2017 - Tepat 19 tahun silam, insiden berdarah kerusuhan Semanggi I terjadi. Memperingati tragedi yang terjadi pada 13 November 1998 tersebut, sejumlah mahasiswa Unika Atma Jaya Jakarta menggelar aksi peringatan tragedi Semanggi I sekaligus konferensi pers di halaman parkir Kampus Semanggi, tempat tertembaknya Alm. Wawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi.

 

Mereka menggelar poster dan memajang lukisan bertema peristiwa Semanggi, serta foto korban penembakan dalam peristiwa tersebut. Peringatan Semanggi I ini diwarnai dengan tabur bunga, dan doa bersama mengenang para korban.

 

Prosesi peringatan dihadiri oleh Wakil Rektor III dr. Tommy N. Tanumihardja Sp.An, Dosen FH Dr. Asmin Fransiska, Koordinator Kesatuan Aksi Alumni Semanggi Thomas Aquino, dan Ibunda Alm. Wawan, Sumarsih.

 

“Saya sangat menghargai teman-teman yang hadir siang hari ini, kalian sudah bersedia meluangkan waktu untuk berpikir ekstra diluar dari rutinitas, untuk mulai belajar memahami, mulai belajar berbela rasa dengan apa yang menjadi bagian perjalanan perjuangan yang digelorakan oleh almarhum Wawan bersama mahasiswa lainnya,” ungkap dr. Tommy.

 

Suasana peringatan Tragedi Semanggi I di parkiran Unika Atma Jaya, tempat tewasnya Wawan saat ditembak

 

dr. Tommy juga mengatakan perjuangan yang dilakukan Wawan bersama mahasiswa-mahasiswa lainnya sangat berdampak dalam kehidupan sekarang ini. Tujuan dan manfaat reformasi dapat dirasakan karena sebagian agenda reformasi sudah tercapai dan sebagian yang belum tercapai, masih memerlukan perjuangan bersama.

 

Senada dengan dr. Tommy, Dr. Asmin Frasiska mengutarakan bahwa peringatan seperti ini perlu diingat. Ditambah lagi, Unika Atma Jaya Jakarta adalah salah satu kampus reformasi. “Pelanggaran HAM berat tidak pernah usang. Sebagai sivitas Unika Atma Jaya, kita perlu tetap mengingat dan mengangkat kejadian tersebut," ujarnya.

 

Dalam peringatan ini, Tidak ketinggal pula Ibunda Alm. Wawan mengutarakan bahwa peringatan ini bukan berarti mengorek luka lama saja, tetapi merawat ingatan untuk meneruskan perjuangan yang telah dibuat oleh Wawan dan mahasiswa lainnya.

 

“Masalah penindakan (yang disuarakan) mahasiswa jangan dikaitkan dengan dendam. Ketika negara kita adalah negara hukum, kemudian apa yang diperjuangkan oleh Wawan dan kawan-kawan adalah salah satu supermasi hukum, ini yang saya katakan sebagaimana ditulis dalam puisi Wawan, bahwa perjuangan belum selesai,” tutur Sumarsih.

 

Ibu Surmasih saat menyampaikan pesan-pesannya kepada para mahasiswa Unika Atma Jaya

 

Sumarsih juga bercerita, perjuangan mahasiswa gerakan ‘98 menjadikan kampus Unika Atma Jaya ini tempat berkumpulnya para mahasiswa untuk mengkiritisi jalannya pemerintahan saat itu. Mahasiswa menghendaki adanya perubahan sistem pemerintahan, terwujudnya pemerintahan yang demokratis, menginginkan adanya perubahan di dalam agenda perubahan reformasi.

 

Kebuntuan hukum dalam penyelesaikan kasus Tragedi Semanggi I membuat Sumarsih makin tidak percaya terhadap pemerintahan. Dia berharap, mahasiswa tidak boleh jera melangsung perjuangan yang telah dilakukan mahasiswa era ’98 karena dia percaya masa depan negara dan bangsa ini ada di tangan para mahasiswa.

 

“Sekali lagi saya katakan, bahwa di dalam puisi Wawan, ketika Wawan sudah tidak ada, sudah tidak bersama kita lagi, maka tugas kita untuk melanjutkannya, untuk mewujudkannya. Semoga pemerintahan Jokowi juga benar-benar menunjukkan komitmen dalam menyelesaikan kasus semanggi I dan kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya,” ungkap Sumarsih. (CTF)

S S R K J S M
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30  
bottom
Copyright © 2016 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya - All right reserved