EN | ID
 
Mendalami Dunia Perfilman dalam acara SMOVE

Suasana Talkshow SMOVE bersama Ghyan dan Daniel

 

Jakarta, 15 Maret 2017 - Himpunan Mahasiswa Komunikasi (HIMAKOM) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya menyelenggarakan acara SMOVE (Show Me Your Movie) yang  bertema “How To Make a Good Short Movie” pada Selasa (14/3) di Gedung K2 202. Acara ini terdiri dari dua sesi, yaitu seminar yang dibawakan oleh Sidi Saleh (Producer, Director, Cinematographor) serta talkshow bersama Gianni Fajri  (Creative Director) dan Daniel Topan (Producer, Actor).

 

Sidi Saleh menjelaskan bahwa dunia pertelevisian sempat meredupkan dunia perfilman dan perlu adanya upaya untuk mengatasi hal tersebut. Oleh karena itu, bioskop-bioskop dan layar lebar mulai gencar dibangun. Ada dua hal penting yang bisa dipelajari dari seminar tersebut. Pertama, script untuk peran-peran dunia perfilman sesungguhnya sama tapi menghasilkan sesuatu yang berbeda. Misalnya, tangga nada memiliki fungsi yang sama bagi pemain keyboard, pemain gitar, dan pemain drum tetapi dari tangga nada tersebut mereka akan mengeluarkan bunyi yang berbeda. Kedua, jika Anda sudah berhasil membuat film, distribusikanlah karyatersebut agar dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.

 

 

Sesi Seminar SMOVE bersama Sidi Saleh

 

Gianni Fajri, atau yang akrab dipanggil Ghyan menempuh pendidikan di Le Salle College dan memiliki ketertarikan terhadap dunia perfilman. Untuk memperdalam minatnya, Ghyan bertemu dengan Angga Dwimas Sasongko (award-winning Indonesian film director) untuk mempelajari bagaimana membuat video dan film. Saat ini, Ghyan lebih berfokus pada warna, setting, dan wardrobe dalam pembuatan filmnya.

 

Ghyan menjelaskan dua hal penting dalam pembuatan film. Pertama, penonton merupakan subjek yang berhak menentukan ada atau tidaknya sebuah ciri khas dalam sebuah film yang dihasilkan oleh seorang director. Kedua, dalam sebuah film harus terdapat keseimbangan antara visual dan cerita. Jangan sampai sebuah film memiliki visual yang terlalu bagus namun penonton tidak menangkap apa yang ingin disampaikan oleh director .

 

“Dengan banyaknya referensi dan media sosial dizaman ini, sesungguhnya siapa pun dapat menjadi seorang director. Kita hanya perlu lebih selektif,” tutur Ghyan.

 

Ghyan juga mengatakan kinerja tim menjadi salah faktor yang menmentukan kesuksesan sebuah film. “Carilah orang–orang yang se-genre dengan anda. Jika Anda adalah orang yang senang genre horror, maka pilihlah orang–orang yang juga menyukai tersebut,” ujar Ghyan.

 

Sementara, Daniel Topan terjun ke dunia perfilman setelah mengalami kejenuhan selama empat bulan karena hanya bekerja di depan komputer. “Saat hendak menyampaikan niat saya ingin menjadi aktor dan producer, malah tawaan yang saya terima. Namun hal tersebut itdak mematahkan semangat saya,” kata Daniel.

 

Pertama kali mencoba casting, Daniel mencoba peruntungannya dengan memakai kemeja dengan wajah yang tidak dicukur. Namun sayangnya mendapat penolakan karena penampilannya yang dinilai kurang cocok. Usahanya tidak berhenti sampai disitu Daniel mencukur wajahnya dan mengganti bajunya ditempat casting tersebut karena sebenarnya ada lima baju yang terdapat didalam tasnya. (IN)

 

Menurut pria yang meniliki ketertarikan dalam genre horror tersebut, hal yang paling penting dalam sebuah film adalah musik. “Didalam film, musik itu sangat penting. Musik 60 persen dan visual 40 persen. Coba banyangkan saja film horror tanpa musik dan sound,” kata Daniel.

 

Daniel juga mengatakan bahwa film horror-horror asli Indonesia ada yang bagus tidak semua tercemar oleh pornografi. Kita hanya perlu lebih selektif. “Ada masa dimana kita memiliki karya-karya film horror yang bagus, misalnya saja tahun 2001, Rumah Jelangkung,” jelas Daniel. “Selain itu, ada rumah kentang dan rumah gurita.” tambah Daniel. (IN)

S S R K J S M
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31
bottom
Copyright © 2016 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya - All right reserved