EN | ID
 
Diskusi Publik Mengenai Ketidakadilan terhadap Kasus Munir

Jakarta, 9 September 2017 – Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya Jakarta berkolaborasi dengan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS) melangsungkan Diskusi Publik: Munir, Demokrasi dan Perlindungan Pembela Hak Asasi Manusia pada Selasa (5/9) di Gedung Yustinus Lantai 14.

 

Marsillam Simanjuntak (Mantan Jaksa Agung RI) menjadi pembicara dalam acara kali ini. Beliau mengatakan negara memegang peranan penting dalam tegaknya keadilan HAM di Indonesia. "Ketimpangan kekuasaan menjadi penyebab terjadinya pelanggaran HAM. Pada masa itu, orang-orang yang menuntut keadilan dianggap menjadi sumber kekacauan negara," ujar Marsillam.

 

Marisillam sedang menyampaikan pendapatnya dalam diskusi publik

 

Selain itu, dalam diskusi ini juga menghadirkan lima narasumber seperti Usman Hamid (Mantan Anggota Tim Pencari Fakta), Yati Andriyani (Koordinator KONTRAS), Prof. Dr. H. Mochtar Pabotinggi (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Dr. Daniel Yusmic (Dosen Fakultas Hukum Unika Atma Jaya), dan Suciwati (istri Munir).

 

Menurut Daniel, kasus pelanggaran HAM berat kerap terjadi di Indonesia, dan Munir adalah salah satu korbannya. "Munir merupakan korban pelanggran HAM yang hingga saat ini belum terselesaikan," kata Daniel.

 

Senada dengan Daniel, Usman Hamid mengatakan kematian Munir menjadi tanda tanya karena adanya hal-hal yang janggal saat kejadian itu. “Banyak pihak – pihak dari instansi garuda yang mencurigakan di hari kematian Munir, dan pada waktu itu Policarpus pun terbukti melakukan telepon dengan Badan Intelijen Negara. Namun, pihak berwenang menolak untuk melakukan investigasi,” ujar Usman.

 

Kabar kasus Munir hingga hari ini pun masih simpang siur, karena hilangnya dokumen beliau. “Presiden Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) Jokowi, pun memerintahkan pencarian dokumen tersebut,” ucap Yati.

 

Kematian Munir adalah hal yang sangat disayangkan. Usman mengungkapkan bahwa Munir adalah sosok yang pemberani pada saat kasus penembakan ‘98, ketika banyak tetesan darah dimana- mana. Yati pun menambahkan bahwa Munir adalah simbol dari perlawanan ketidakadilan. “Munir adalah representasi dari penegakan pancasila,” kata Prof. Mukhtar.

 

Suciwati mengungkapkan keinginannya agar jangan ada lagi orang yang harus merasakan sakitnya kehilangan orang paling dicintai sepertinya dirinya. Segala macam upaya ditempuh oleh Suci menuntut keadilan terhadap kasus pembunuhan suaminya. “Saya menempuh semua mekanisme yang ada agar terdapat tindakan konkret, namun tidak ada hasil. Ada hal yang tidak betul dalam negara ini, yang harus didorong keluar,” tambah Suci.

 

Suciwati, istri Munir mengutarakan opininya terhadap kejadiannya terhadap suaminya yang hingga saat ini belum diusut tuntas

 

“Ini merupakan perjuangan tarik tambang panjang,” tutur Prof. Mukhtar. Sesungguhnya ini adalah konfrontasi antara penegak pancasila dan negara. (IN)

S S R K J S M
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30  
bottom
Copyright © 2016 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya - All right reserved