EN | ID
 
Ben Mang Reng Say: Pendiri Unika Atma Jaya yang Peduli HAM dan Indonesia serta Produktif

Ben Mang Reng Say

 

Ben Mang Reng Say merupakan pria kelahiran Nusa Tenggara Timur, 15 Juni 1926. Pria berkebangsaan Indonesia tersebut menikah dengan Dona Maria Yosefa Nana Da Silva. Dari pernikahan tersebut, Ben Mang Reng Say memiliki tiga orang anak. Pada tahun 1966 hingga 1971 beliau dipercaya menjadi wakil presiden Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong. Semasa hidupnya, Ben Mang Reng Say memfokuskan diri untuk melakukan penelitian pada insiden Dili, 12 November 1991.

 

Berawal dari kekecewaan mahasiswa karena pembatalan kedatangan anggota parlemen delegasi Portugal dan dua belas wartawan yang dijanjikan akan datang ke Timor Timur, terjadilah insiden penembakan mahasiswa bernama Sebastião Gomes oleh tentara Indonesia. Tidak berhenti sampai disitu, pada sesi penguburan Sebastião Gomes, para mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa yang kemudian memicu kemarahan para pasukan Indonesia yang kemudian melakukan penembakan. Pembantaian tersebut terekam oleh beberapa rekan wartawan yang hadir dari ranah internasional seperti Amerika, Australia, dan Belanda. Hasil rekaman yang kemudian tayang di seluruh dunia tersebut sangat mempermalukan nama pemerintahan Indonesia. Beliau melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut karena beliau merasa hak asasi manusia para mahasiswa tersebut telah dirampas secara tidak adil dan berlebihan. Pasti ada jalan untuk menenangkan para mahasiswa yang melakukan unjuk rasa tersebut tanpa harus menembaki mereka.

 

Tidak sampai disitu, Ben Mang Reng Say juga aktif dalam perundingan mengenai Timor Timur dengan pihak Portugal karena tingginya kepedulian Ben Mang Reng Say terhadap tanah air tercinta, Indonesia. Selain memiliki rasa kepedulian terhadap hak asasi manusia dan bangsa Indonesia, Ben Ma Reng Say juga sosok yang produktif. Keproduktifan beliau dibuktikan dengan jati dirinya sebagai salah satu pendiri perguruan swasta Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya dan pendiri Partai Demokrasi Indonesia pada tahun 1973. Sosok yang peduli akan HAM, Indonesia, dan produktif tersebut menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 75 tahun setelah menderita penyakit stroke. (IN)

S S R K J S M
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30  
bottom
Copyright © 2016 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya - All right reserved